Bahasa

Bahasa adalah suatu media untuk mengeneralisasi imaji dalam pikiran manusia. Layaknya manusia jaman dahulu belum mengenal uang, manusia purba pun belum mengenal bahasa. Bahasa modern dibentuk dari implikasi perkembangan intelektual akan interaksi, seiring dengan evolusi fisik (pita suara) manusia untuk mengikuti kebutuhan mereka dalam berbicara.

Jika dicoba untuk didalami, fenomena bahasa dapat dianalogikan seperti uang. Sebagai alat tukar, uang merupakan satu instrumen kesepakatan terhadap apa yang dimaknai bersama. Representasi imaji manusia ke dalam sebuah benda yang menimbulkan kesepahaman akan sebuah arti. Apa artinya setumpuk kertas begambar yang bahkan dapat membeli dunia? Apa kontribusi nyata sekeping elemen berwarna emas terhadap kehidupan manusia? Esensi dari benda tersebut mungkin tidak berarti, namun suatu hubungan kesepahaman inilah yang membentuk nilai dan pengertian. Nilai itu yang menjadi konektor antara manusia dalam memahami sesuatu dalam alam bawah sadarnya seperti halnya yang dilakukan oleh bahasa.

Terlepas dari itu, bahasa merupakan buah peradaban yang sangat unik. Bahasa merupakan instrumen utama interaksi dalam setiap jengkal kehidupan kita. Seperti yang sudah disinggung di awal, bahasa dapat menjadi media untuk mentransformasi pengetahuan tacit menjadi explisit sehingga terjadilah proses multiplikasi di sana. Proses inilah yang membuat ledakan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia secara eksponensial hingga saat ini. Batas interaksi yang tidak atau belum dilewati oleh makhluk hidup lainnya.

Di satu sisi ketika imaji tacit manusia ditransformasi menjadi explisit melalui media bahasa, generalisasi-simplifikasi-pembiasan informasi pasti terjadi. Contoh yang sangat mudah adalah ketika mendeskripsikan warna abu-abu, sedetil dan sejelas apapun warna tersebut dibahasakan sang penerima informasi tidak akan pernah dapat membayangkan hal yang persis sama dengan sang narator; bahkan ketika mereka pernah menghadapi pengalaman yang sama dalam menangkap warna yang sama. Di sini sangat terlihat bahwa ternyata bahasa memiliki keterbatasan yang luar biasa.

Bahasa hanyalah setitik representasi dari imaji manusia yang begitu kompleks dan miskonsepsi adalah keniscayaan dalam berbahasa. Oleh karena itu, bahasa adalah sebuah kekosongan interaksi pemikiran dari logika dan imaji manusia. Kekosongan yang sarat interpretasi. Interpretasi yang menggiring pemikiran ke satu arah esensi atas formulasi dari imaji manusia itu sendiri. Maka dari itu, saya memahami bahasa sebagai the art of human interpretation.

 

NB: tulisan ini hanyalah buah dari hasil pemikiran dan pengamatan sederhana saya pribadi, oleh karena itu kesalahan dan kedangkalan pemikiran sangat mungkin terjadi.

Filosofi Earphone

apple earphoneSejak 2 sampai 6 tahun yang lalu, saya sering diasikkan dengan idealisme pribadi buat ngedengerin musik. Mulai dari cuma mau dengerin lagu original CD/iTunes sampe gonta ganti earphone. Petualangan dimulai dari earphone yang harganya puluhan ribu, naik lagi ratusan ribu, sampai yang jutaan. Ternyata… dengan membeli earphone mahal tersebut tetap tidak memenuhi ekspektasi dan membuat saya puas. Suaranya emang bagus banget sih, namun saya menyadari entah kenapa earphone tersebut tidak begitu nyaman dipakai di telinga untuk jangka waktu yang lama. Setelah ‘petualangan’ itu, sampailah pada satu titik dimana saya merasa dan menyadari bahwa earphone yang paling nyaman saya gunakan justru earphone putih Apple standar yang dahulu didapatkan gratis dari iPod. Earphone yang dulu saya anggap jelek itulah yang akhirnya sampai sekarang justru paling sering digunakan.

Dari pengalaman tersebut, saya mendapatkan pelajaran besar bahwa ternyata di dalam kehidupan, sesuatu yang termahal, terkeren, terhebat, dan ter-lainnya belum tentu merupakan yang terbaik buat kita. Juga, yang terbaik buat kita, mungkin bukan yang terbaik buat orang lain. Sesuatu yang terbaik adalah yang dapat membuat kita merasa nyaman dan bersyukur memilikinya. (NL)

Mengapa Masih Dibela?

Jika menarik satu permasalahan di negeri ini, hampir pasti kita akan menemukan salah satu akarnya adalah korupsi.  Di Indonesia, hampir segala hal, segala titik, proses, dan kesempatan rentan terhadap korupsi. Kemiskinan lahir dari ribuan variabel yang kalau ditelusuri adalah karena korupsi. Pendidikan yang tidak maju-maju juga karena korupsi. Infrastruktur yang kacau balau karena korupsi. Bahkan sampai sepakbola (olahraga) Indonesia yang mengalami degradasi terus menerus, ya karena satu-kata-itu.

Membayangkan jika negeri yang besar ini bisa bebas korupsi, saya hakqqul yakqin Indonesia akan sejahtera dan dapat berlari jauh meninggalkan negara lain. Karena pada dasarnya potensi manusia, sumber daya alam, geografis, dan geopolitik Indonesia amatlah besar.

Syukurlah, Tuhan memberikan satu lembaga luar biasa yang bernama KPK di negara ini. Walaupun berkali-kali berusaha dihancurkan oleh berbagai kepentingan, lembaga ini tetap maju dan menurut saya menunjukkan eksistensinya yang luar biasa belakangan ini. Saya pernah pesimis ketika KPK ingin menjerat salah satu mentri di republik ini. Ketika Abraham Samad datang ke ITB untuk memberikan Kuliah Umum tahun 2012 lalu, perasaan ragu tersebut bahkan masih sangat kuat ketika ia berbicara bahwa KPK adalah institusi yang tidak takut kepada siapapun kecuali Tuhan. Ia mengatakan bahwa KPK juga punya indra, insting, dan nurani yang dapat mengatakan seseorang korupsi atau tidak, namun tentunya hukum di Indonesia yang mengharuskan cukupnya alat bukti untuk melakukan penangkapan-penahanan  dan menjadikan tersangka seseoranglah yang merupakan hal tersulit. Alat bukti merupakan salah satu yang wajib untuk melakukan proses hukum di negeri ini. Oleh karena itulah amat sulit untuk menangkap contohnya sang pemimpin partai terbesar di negeri ini.

Tidaklah heran bahwa Indonesia seakan terhenyak kagum dan bersorak ketika KPK menjadikan Menpora dan saudaranya tersangka. Ini adalah sejarah baru Indonesia dimana seorang mentri yang aktif, yang sangat kuat, dari partai penguasa yang juga sangat kuat, dapat ditembus oleh kekuatan KPK. Inilah juga menjadi titik tertinggi dalam sejarah pemberantasan korupsi Indonesia.

Takjub saya oleh lembaga ini masih belum hilang dan sudah dikejutkan lagi oleh keberanian mereka menangkap dan menjadikan tersangka, tidak main-main, seorang presiden partai besar di republik ini. Walaupun menurut saya tingkat kesulitannya lebih rendah dibanding sang Menpora, tetapi ini sudah menjadi sinyal bahwa memang pemberantasan korupsi di negeri ini sudah berjalan ke arah yang lebih baik, tidak pandang bulu, dan yang terpenting, tidak takut terhadap siapapun. (NL)

Citra dari Media

jokowi-ingin-nonton-guns-n-roses1Pecaya ato ngga, apa yang kita pikirkan sangat banyak terpengaruh dari apa yang diarahkan oleh sang pemilik kekuatan dan informasi. Teringat beberapa pengalaman sejak SD sampai saat ini dimana terdapat teman yang disingkirkan/dimusuhi/dijauhi oleh mayoritas orang hanya karena terdapat masalah dengan beberapa gelintir orang. Seringnya hal tersebut menyebabkan apa saja yang dilakukan sang korban seakan menjadi salah dan menyebalkan.

Nah, kebetulan baru nemuin contoh kongkrit yang banyak orang tahu nih, yaitu ketika Jokowi menonton konser Guns n’ Roses beberapa waktu lalu. Hal ini ditanggapi kebanyakan masyarakat dengan positif tentang ke-luwes-an gubernur yang satu ini. Saya tentunya salah satu yang tersenyum melihat tingkah Jokowi yang tidak kaku, memiliki jiwa seni, dan tidak malu bersentuhan-berbaur langsung dengan masyarakat.

sby-gitar.cvTapi, kalau inget-inget kejadian beberapa tahun yang lalu, hal bertolak belakang terjadi terhadap SBY yang membuat album lagu dirinya. Cibiran dan tanggapan negatif datang bertubi-tubi pada waktu itu bahkan sampai saat ini. Saya termasuk yang heran mengapa orang-orang dengan mudahnya mencibir hal positif yang sebenarnya patut diapresiasi itu.

Jika melihat apa yang terjadi, itulah politik dan itulah hebatnya sesuatu yang dapat menguasai informasi. Dalam kedua contoh di atas, media terbukti sangat berpengaruh dalam membuat citra dan isu. Pola pikir masyarakat dapat dibentuk oleh media dan pada saat ini, dapat dikatakan media lah yang menentukan apa yang ada dalam pikiran orang Indonesia. Oleh karena itu kita perlu pintar-pintar memfilter segala arus informasi agar tidak tebawa kontrol media. (NL)

Terima Kasih

Dua ribu dua belas, tahun yang memberikan berjuta-juta pelajaran tak ternilai. Sungguh tidak ada yang dapat menggantikan seluruh pengalaman berharga yang telah dilalui. Dari resolusi yang dibuat, ada yang gagal dan berhasil, namun yang sangat menyenangkan adalah saya mendapatkan banyak pengalaman dari usaha untuk memenuhinya. Keberhasilan terhadap hal tersebut akan menghasilkan kesenangan, tapi pengalamanlah sebenarnya hal paling berarti dari apa yang diusahakan. Yap! Itu pastinya bakal membuat kehidupan jadi makin berwarna🙂

2012: komunikasi • teman • percintaan • kerja praktek • jakarta • keluarga • gereja • Tuhan • arti hidup • mengajar • kesabaran • ketulusan • pengorbanan • akademik • fasttrack • bisnis • uang • start-up • teknologi • passion • pembelajaran • lomba • kegagalan • organisasi • kepemimpinan • ambisi • percaya diri • inkonsistensi • olahraga • kesehatan