Wacana

Christopher Columbus, seorang penjelajah yang “menemukan” benua Amerika, pada suatu ketika berada pada sebuah pesta dan dikerumuni banyak orang yang ingin mendengarkan pengalaman-pengalaman menariknya.
Namun, ada seorang yang iri dari kejauhan berkata,”Ah, apa yang istimewa darinya, semua orang bisa berlayar dan jika beruntung, dapat menemukan benua baru. Itu biasa…”
Lalu seorang sahabat Columbus tidak sengaja mendengar percakapan tadi dan mengatakan hal itu kepada Columbus. Lalu Columbus mengambil sebuah telur rebus, menaruhnya di meja, dan berkata kepada banyak orang,”Siapapun yang bisa membuat telur ini tegak pada ujungnya di atas meja, akan mendapatkan seluruh gelar yang kumiliki dan semua harta kekayaanku.”
Orang yang tadi berpendapat pun mencoba menegakkannya dan memang tidak bisa dan tidak ada yang bisa (karena telur bentuknya elips). Lalu Columbus dengan tenang maju ke depan, mengambil telur tersebut, menekan ujung telur tersebut di meja sehingga sedikit remuk dan tidak elips lagi sehingga bisa ditegakkan.
Hal tersebut tentunya mengagetkan dan orang itu berkata,”Kalau begitu caranya kami juga bisa…” Lalu Columbus dengan tenang berkata,”Mengapa tidak kamu lakukan?”

Terkadang yang membedakan pecundang dengan pemenang adalah apa yang sudah mereka lakukan, bukan yang sedang mereka pikirkan.

Christopher Columbus

disadur dari buku 101 Kisah Inspiratif

Cerita di atas menyentak saya ketika membacanya. Sungguh, terkadang saya memang terlalu banyak menjadi “pecundang” dengan banyak berwacana, mengkritik, dan diam dalam melihat dan menghadapi sesuatu. Padahal, di saat kita bisa melakukan sesuatu, sekecil apapun itu tanpa banyak mengeluh, itu jauh lebih baik daripada hanya diam dan tidak berbuat apapun.

Itulah yang sering kita lihat juga di Indonesia. Anies Baswedan, dalam tulisannya di rubrik Opini Kompas 25 Juli 2011 yang berjudul “Peringatan bagi Pemimpin”, mengatakan bahwa pemimpin Indonesia saat ini masih terlalu banyak mengumbar rencana dan janji yang berakhir hanya sebatas pidato dan wacana. Ini tentunya bukan hanya sentilan keras bagi pemerintah, tetapi juga kita, generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa untuk mencamkan hal ini di diri kita masing-masing sehingga di saat waktu generasi ini yang memimpin negara, hal tersebut tidak terulang lagi. (NL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s