Hukum Pancung Pembawa Perdamaian?

Pemberian gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Perdamaian Internasional dan Kemanusiaan pada tanggal 21 Agustus 2011 oleh Rektor UI (Universitas Indonesia) kepada Raja Arab Saudi, Raja Abdullah bin Abdul-Aziz Al Saud, sungguh melukai hati para korban kekerasan yang dialami oleh sebagian TKI yang pernah bekerja di sana. Ironisnya, gelar ini diberikan hanya beberapa bulan setelah kasus Sumiati yang disiksa oleh majikannya dan dihukum pancung di Arab Saudi. Padahal, Sumiati hanyalah satu diantara banyak korban-korban TKI yang pernah kesana, disiksa, tidak pernah diekspos oleh media dan kita semua tidak pernah tahu. Lebih parahnya lagi, gelar doktor ini diberikan untuk bidang Perdamaian Internasional dan Kemanusiaan yang jelas justu bukan hanya tidak sesuai namun bertentangan dengan realita yang dirasakan.

Saya yakin, pasti rektor UI, Gumilar Rusliwa Somantro, punya alasan tersendiri dalam memberikan gelar ini. Tidak mungkin seorang akademisi terpandang melakukan sesuatu tanpa dasar. Namun tentunya harus ada juga pertimbangan sosial lain sehingga pemberian gelar terhormat itu setidaknya tidak melukai hati para korban. Tidak heran jika beberapa guru besar UI dan berbagai kalangan aktivis pejuang HAM menentang pemberian gelar ini. Begitu juga ketika saya menanyakan teman saya di UI, ia memberikan informasi bahwa ketidakpuasan akan rektor UI sekarang semakin memuncak dan mereka sudah siap untuk menggulingkan sang rektor. Ya, mungkin dalam kasus ini saya cukup setuju dengan hal tersebut. (NL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s