Kota yang Menyenangkan

Dalam satu minggu terakhir, saya kebetulan dua kali mendapat ceramah dari Ridwan Kamil, seorang arsitek yang mendalami perencanaan wilayah kota ternama. Yang pertama adalah Minggu 23 Oktober 2011 dalam acara Indonesia Bermain di Sabuga Bandung dan yang kedua adalah Jumat 28 Oktober 2011 pada acara BCCF di Simpul Space Dago.

Pada waktu di Indonesia Bermain, beliau bercerita tentang pentingnya sebuah aspek manusia yang banyak dilupakan orang di kota besar yang penuh dengan pekerjaan yaitu ‘fun’ dan mirip dengan yang dijelaskan di sana, pada waktu di BCCF beliau lebih menyasar ke aspek arsitektur dan perancangan kota yang baik untuk membuat warganya menjadi nyaman tinggal di kota tersebut.

Kota-kota besar di Indonesia saat ini sangat penuh dengan jalan dan bangunan tanpa memerhatikan pentingnya ruang terbuka dan tempat untuk berekreasi dan melepas penat. Sangat minimnya area terbuka, sedikitnya taman kota dan buruknya tempat pejalan kaki adalah hal-hal yang disoroti oleh Ridwan Kamil.

Kota ini dirancang untuk kaum pria yang sehat, bukan untuk perempuan, bukan untuk anak kecil, bukan untuk orang tua, apalagi untuk orang cacat.

Dari sisi ruang terbuka dan area hijau, kota besar di Indonesia memang makin lama makin tergerus. Hutan kota sedikit-sedikit berkurang sampai habis. Hutan kota di Bandung contohnya, kota yang 50 tahun lalu adalah kota yang penuh dengan kebun dan hutan ini sekarang hanya tinggal memiliki satu hutan kota, Babakan Siliwangi. Bahkan baru-baru ini, ada wacana Pemerintah Kota Bandung ingin menjual area itu kepada swasta yang ditentang habis-habisan oleh berbagai kalangan di Bandung yang untungnya dibatalkan karena ditentang habis-habisan oleh berbagai komunitas di Bandung.

Taman-taman kota dan area hijau terbuka juga makin langka ditemukan. Ini yang menyebabkan kota-kota tidak begitu ramah untuk kaum manula dan anak kecil yang seharusnya banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat seperti itu.

Dan yang paling parah adalah jalur pejalan kaki (pedestrian). Di Bandung, rasanya sulit untuk menemukan trotoar yang nyaman untuk berjalan. Tidaklah heran jika masyarakat di Indonesia sedikit malas untuk berjalan kaki salah satunya disebabkan karena tidak ramahnya trotoar untuk pejalan kaki. Sangat terasa jika saya berjalan kaki di daerah Dago dengan di daerah Merdeka contohnya. Mungkin saya bisa berjalan dua kali lebih panjang untuk tenaga dan waktu yang sama di Dago. Dan sebenarnya, Merdeka masih contoh jalan yang tidak begitu buruk. Masih sangat sangat banyak jalan dengan ruang pejalan kaki yang sangat tidak nyaman. Itu terlihat pada waktu saya melintas di Jalan Surya Sumantri Bandung yang sedang diperluas. Di situ, area pejalan kaki menjadi sangat sempit (lebar trotoar kurang dari satu meter) dengan jalan yang naik turun, banyak batu-batu, dan banyak terhalang tiang listrik, pohon, dsb. Bahkan ada kasus dimana saya melihat seorang perempuan yang kebingungan ketika trotoar terhalang pohon dan tiang listrik sedangkan jalan sangat penuh dengan mobil dan motor sehingga ia tidak bisa memakai badan jalan. Akhirnya ia sampai harus menyeberang, lalu berjalan dan menyeberang balik untuk sekedar berjalan. Saya langsung teringat perkataan Pak Emil ketika menyaksikan hal itu di jalan.

Ya, mungkin itu yang perlu dipikirkan para pemimpin dalam menata sebuah kota. Terkadang semuanya bukan hanya terkendala di pendanaan, tetapi di niat dan kepedulian. (NL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s