Ngobrol Sama Penjaga Toilet

Baru beberapa hari yang lalu, sore hari setelah kuliah tambahan untuk presentasi tugas terakhir Rekayasa Sistem, saya memutuskan untuk pulang dikarenakan harus membantu kaka yang sedang mendekati deadline tugas akhirnya, namun sebelum pulang, saya diminta mencarikan majalah untuk keperluan yang sama.

Di tengah jalan dari ITB ke rumah, saya memutuskan berhenti di Baltos untuk melihat toko buku diskon di situ (Bandung Books Center), siapa tahu ada majalahnya. Setelah naik ke lantai 4 dan tidak ada majalah yang diinginkan, saya lalu ke toilet sebelum pulang. Setelah selesai dan cuci tangan, ada seseorang yang menanyakan saya,”Sudah pulang mas?”. Saya cukup kaget dan saya hanya menjawab iya.

Saya lalu ke depan dan membayar seribu rupiah seperti yang ditulis. Suasana di situ cukup sepi dan penjaga toilet tadi langsung keluar dan mengambil uang, memasukkannya ke kotak dan mengambil buku karcis dari bawah, merobek selembar, dan selembar tadi dirobek kembali menjadi dua dan ia masukkan ke tong sampah. Pemandangan ini cukup langka di Indonesia dimana biasanya, penjaga-penjaga seperti ini (seperti penjaga parkir) sangat jarang yang “memakai” karcis tersebut agar uang yang ditarik dapat mereka ambil.

Setelah itu, ia lalu bertanya,”Kuliah di mana mas?” Saya jawab,”ITB.” Awalnya ia hanya menanyakan soal biaya kuliah di ITB dan seputar perkuliahan, namun akhirnya setelah saya pancing-pancing ia menceritakan bahwa sebenarnya ia sangat ingin untuk kuliah. Ia merasakan bahwa pendidikannya yang SMA  hanya membawa dia menjadi penjaga dan tukang bersih-bersih toilet. Ia juga menceritakan bagaimana sulitnya ia memperoleh pendidikan, bagaimana orang tuanya bekerja keras untuk menyekolahkannya sampai SMA, dan bagaimana ia harus membantu orang tuanya sekarang. Dari kesan saya selama berbicang, terlihat bahwa ia adalah seorang pemuda yang polos dan jujur.

Namun, saya menjadi cukup sedih ketika mulai mengobrol soal kehidupannya. Umurnya tidak jauh dengan saya, ia 22 dan saya 21, mungkin ia juga yang menyebabkan saya cukup merasa nyaman bertukar pengalaman dengannya. Setelah saya pancing, akhirnya ia mengatakan bahwa gaji-nya hanya 550 ribu per bulan. Itu pun masih harus dipotong biaya tinggal sebesar 200 ribu per bulan karena ia bukan berasal dari Bandung (dari Sukabumi). Namun ia tetap bersyukur karena akan sangat sulit mencari uang sebesar itu di Sukabumi katanya. Saya pun membayangkan betapa sederhana dan berat hidupnya dikarenakan kesempatan memperoleh pendidikan yang tidak sama dengan saya. Lalu saya pun menyarankannya untuk membuka usaha, namun ya masalah ketidakadaannya modal menjadi masalah tersendiri baginya.

Karena sudah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Saya pun tidak lupa untuk berkenalan dan meminta nomer handphonenya sebelum pergi. Namanya Ridwan (085315658576). Saya tidak lupa berjanji untuk menghubunginya jika memang menemukan sesuatu yang bisa berguna baginya.

Banyak-banyak pelajaran dan refleksi diri yang saya dapatkan dari hanya 10 menit berbincang dengannya. Ya, pada dasarnya saya sangat sedih melihat seorang teman sepantaran saya yang memiliki nasib yang berbeda dengan saya. Ia harus berjuang keras untuk mencari sekedar 550rb per bulan di saat saya bisa duduk di bangku ITB dengan nyaman, dengan fasilitas yang ada dapat mencari uang dengan mudahnya, masih ditambah uang jajan dari orang tua yang diberikan setiap harinya. Saya juga sebenarnya bingung mengapa bisa ada tenaga kerja yang digaji dengan upah jauh dibawah UMR seperti itu.

Sempat terbesit pikiran untuk membantunya dengan mengajak untuk membantu saya berjualan di internet, ya bisalah menggajinya lebih. Tapi akhirnya bingung juga karena pada dasarnya usaha saya sekarang masih dapat dikerjakan sendiri. Saya juga malu sama diri sendiri mengapa saya tidak bisa membantunya padahal Mas Ridwan adalah satu dari puluhan juta orang di Indonesia yang bernasib seperti dirinya.

Ya mungkin kalau suatu saat saya membuka usaha yang lebih besar lagi dan bisa membantunya, saya berjanji pasti akan membantunya dan membantu orang-orang lain yang membutuhkan lapangan pekerjaan atau pekerjaan yang layak. (NL)

One thought on “Ngobrol Sama Penjaga Toilet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s