Kondisi Start-Up IT di Jepang dan di Indonesia

Sekitaran 3 minggu yang lalu, teman saya orang Jepang, Takahiro Suzuki, yang dulu pernah bertemu mengirimkan message di FB dan mengenalkan saya pada seorang temannya yang juga orang Jepang, Sakahito Sado yang dipanggil Chado. Chado bermaksud untuk datang ke Indonesia umumnya dan ke Bandung khususnya untuk studi tentang kondisi industri software IT di Indonesia. Nah, ia mengatakan bahwa akan datang pada Rabu 16 November silam.

Awalnya saya membayangkan bahwa dia sudah cukup tua seperti orang-orang Jepang sebelumnya yang pernah saya temui. Namun ternyata, ketika saya bertemu pertama kali, umurnya dia tidak berbeda jauh dengan saya dan lebih mengejutkan, ia ke Bandung hanya seorang diri, tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali, baru pertama kali ke Indonesia, dan saya adalah teman pertama dan satu-satunya di Bandung pada saat itu. Memang dia sudah punya serangkaian agenda bisnis selama dia di Bandung, tetapi ia hanya pernah berkirim email dengan mereka dan itu bagian dari pertemuan bisnis (ia akan berkunjung ke Agate dan perusahaan IT lainnya), sedangkan sama saya tidak, ia hanya ingin menjadikan teman ngobrol soal Bandung, mahasiswa Indonesia, dan IT.

Ketika kami berbincang-bincang sambil berkeliling ITB di sore menjelang malam, akhirnya saya juga ditemani oleh Verry untuk ikut ngobrol. Isi perbincangannya lebih banyak ke arah menjelaskan tempat-tempat di ITB kegiatan mahasiswa pada umumnya dan mahasiswa IT pada khususnya. Karena langit sudah gelap dan sulit untuk melihat gedung-gedung di ITB lagi, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di Warung Pasta.

Di Warung Pasta, baru perbincangan kami mulai menarik karena justru ia yang banyak bercerita tentang apa yang ia ketahui. Ia bercerita tentang bagaimana start-up IT di Jepang yang dibangun oleh mahasiswa (atau anak muda) lebih dari 90% gagal. Hal ini disebabkan karena Jepang tidak memunyai ekosistem pengembangan start-up IT yang matang layaknya Silicon Valley di Amerika. Ia juga bercerita bahwa ia pernah punya start-up yang ia bangun pada waktu kuliah dan gagal. Kegagalan yang ia rasakan itu disebabkan karena mayoritas orang IT tidak memiliki latar belakang bisnis dan tidak mengetahui mengenai hal-hal diluar hal teknis seperti bagaimana membuat produk yang baik dan bisa diterima masyarakat, bagaimana mencari uang dari situ, dll.

Lalu ia bercerita soal mengapa ia datang ke Indonesia. Ia mengatakan bahwa di Jepang, dunia usaha sudah cukup jenuh dan persaingan sangat ketat. Jika ada seorang yang memulai dan sukses, biasanya bukan hanya produknya namun sampai strategi dari kesuksesan usaha tersebut juga akan dianalisa dan ditiru oleh banyak orang. Hal ini menyebabkan banyak pengusaha di Jepang yang mengekspansi usahanya ke negara-negara lain yang memiliki pasar yang lebih potensial. Ia menyebutkan bahwa dari hasil penelitian dan survey mereka, terdapat negara-negara dengan pasar yang potensial yaitu Vietnam, Singapura, Malaysia, dan tentunya Indonesia. Namun ia menyatakan bahwa pada saat ini, pasar Indonesia tidak begitu baik, namun dalam tiga sampai lima tahun ke depan, Indonesia akan menjadi negara dengan potensi yang luar biasa. Ia sebutkan, paling baik dari seluruh negara yang ia survey dan analisa. “You’re a very lucky generation in Indonesia,” katanya.

Indonesia little chaotic but have a great potential.

Ketika ditanya, impresi pertama ia ketika sampai di Indonesia adalah kesemrawutan. Ya mungkin emang jauh lah ya kalo dibanding Jepang. Tapi saya juga menanyakan kondisi Jepang pada saat ini. Ia bercerita tentang kota-kota di sekitar reaktor nuklir Fukushima yang seperti kota mati, hampir tidak ada kehidupan di sana, padahal bentuk fisik kota masih utuh.

Akhirnya jam 9, kami semua selesai makan, Verry ada kerjaan dan Chado saya ajak berkunjung ke rumah Ibu Tita untuk melihat-lihat  atmosfir kumpul orang Indonesia dan dia saya bonceng naik motor (haha..). Sebelum pergi kami bertiga foto dulu (sayangnya karena terburu-buru fotonya blur). Akhirnya setelah berkunjung, sekitar jam 10 ia saya antar ke taksi agar bisa langsung ke hotel.

Jumat siang, Chado ada waktu kosong dan mengajak saya untuk mengobrol kembali. Akhirnya ia datang ke ITB sekitar jam 2 dan kami ngobrol cukup lama di cafe di ITB. Ketika ia saya ajak ke perpustakaan, ia bercerita bahwa di Jepang, bahkan di dua universitas terbaik di sana (Tokyo University untuk science and engineering dan Keiko University untuk business), suasana kampus tidak seramai dan seaktif di ITB. Ia mengatakan justru di sana, sangat sedikit mahasiswa yang masih keras untuk belajar setelah selesai kuliah. Mereka kebanyakan mengisi waktu untuk jalan-jalan, berolahraga, dan beraktifitas lainnya. Namun memang, dari segi kepintaran, mahasiswa di dua universitas tersebut memiliki intelegensia yang luar biasa. Namun dari segi kepadatan belajar, impresi dia mengatakan bahwa di sana kurikulumnya cukup santai sehingga mahasiswa punya banyak waktu luang untuk beraktifitas di luar akademik. Obrolan kami tidak terasa dan ketika waktu jam menunjukkan pukul 5, akhirnya ia pulang dengan taksi untuk agenda selanjutnya.

Ya, pengalaman ini cukup unik dimana pertama kalinya saya bisa berbincang-bincang dengan sangat lama, bisa ngeboncengin naik motor, dan bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan orang Jepang. (NL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s